Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2009

Dialog Bung Karno dan Kadirun Yahya

Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Kadirun Yahya, anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).

Bung Karno (BK): Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.

Kadirun Yahya (KY): Apa soalnya Bapak Presiden?

BK: Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?

KY: Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.

BK: Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau, Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga.

Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali. Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?

Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.

KY: Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan.

Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.

KY menulis dikertas:10/10 = 1.

BK menjawab: Ya.

KY: 10/100 = 1/10.

BK: Ya.

KY: 10/1000 = 1/100.

BK: Ya.

KY: 10/bilangan tak berhingga = 0.

BK: Ya.

KY: 1000000/ bilangan tak berhingga = 0.

BK: Ya.

KY: Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.

BK: Ya.

KY: Dosa dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.

BK: Ya.

KY: Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga = tak berhingga. Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Mahaakbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.

BK diam sejenak lalu bertanya: Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?

KY: Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.

BK berdiri dan berucap: Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous. Kemudian aia merangkul KY dan berkata: Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.

Beberapa tahun kemudian, Bung karno meninggal dunia. Resensi-resensi harian-harian dan majalah-majalah ibukota yang mengkover kepergian beliau, selalu memberitakan bahwa beliau dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya.

»»  read more

Minggu, 26 April 2009

Sedekah Tanpa Pamrih

SAAT paling indah dalam hidup ini ketika kita memperoleh sesuatu yang didamkan sekian lama. Semisal mendambakan seorang isteri yang “cantik” atau lulus dari sekolah dengan nilai sempurna. Kebahagian semacam ini tak terperi, seakan dunua milik kita seorang, sedangkan yang lainnya hanya pada numpang. Di sinilah terkadang orang tanpa sadar menjadi takabur dan riya.

Sifat takabur dan riya ini pada akhirnya akan membinasakan diri sendiri. “Saudara” takabur adaalah congkak, tinggi hati. Dan jika sudah melekat pada seseorang, maka dia akan merasa menjadi manusia paling hebat. Itulah yang dimiliki Fir’aun hingga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Akhirnya ia harus ditenggelamkan akibat takabur dan kecongkakannya itu.

Banyak orang yang tak bisa menahan diri ketika melihat keindahan dunia. Mereka yang punya segalanya, kekayaan juga kekuasaan. Mereka mengatur dan merencanakan hidup mereka sendiri melebihi kemampuan yang dimiliki. Dalam setahun ke depan, mereka telah memproyeksikan banyak rencana dan keinginan. Memperluas rumah dan perusahaan. Liburan ke luar negeri tiga kali dalam setahun. Dan menghabiskan malam tahun baru di suatu tempat yang paling prestisius. Namun mereka lupa memperluas ibadah dan ketakwaan mereka kepada Allah swt. Mereka lupa, bahwa kematian setiap saat mengintai mereka. Mereka sibuk menabung kekayaan, lupa menabung amalan untuk akhirat. “Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri (QS. Al-Furqan: 154).

Banyak sekali contoh kasus mereka yang takabur, akhirnya menyeretnya jatuh pada jurang kehinaan. Kita ketahui ada pejabat korup yang diseret ke pengadilan. Ketika berkuasa ia dipuja-puja, namun saat di penjara mereka sendirian. Dan perasaan kehinaan ini bukan hanya dialami dirinya, tapi dialami keluarganya. Itulah yang dikhawatirkan Rasulullah saw dengan sabdanya; “Sesuatu yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil. Dan syirik kecil itu adalah riya.”

Kebalikan dari sikap takabur adalah rendah hati, ringan tangan, dan penolong. Suka membantu orang yang kesusahan. Meringankan beban orang menderita. Mendermakan hartanya pada jalan yang Allah ridhai. Sebab dalam Islam, nilai suatu amal tidak diukur oleh jumlah dan kuantitasnya, akan tetapi ditentukan pada tujuan dan motivasinya, kejujuran dan keikhlasannya. Jika tujuan dan motivasinya baik maka baik pula di sisi Allah swt. Namun, jika perbuatan itu karena mengharap pamrih, sudah pasti akan menjadi laknat baginya. Banyak yang memperlihatkan ikhlas dan rela untuk membantu kaum yang lemah, namun di balik itu tersimpan tujuan dan motivasi tertentu; berharap ada balas jasa dari orang yang dibantunya itu.

Kita melihat senyuman manisnya, tapi siapa sangka di balik senyum menawan itu tersimpan kepentingan terselubung. Model sedekah seperti ini yang saat ini banyak kita jumpai di tengah-tengah kita. Pada awalnya mereka turun ke desa-desa dan menemui warga. Lalu hadiah dibagi-bagikan, seolah-olah mereka tulus dalam membantu warga. Namun karena keinginan mereka tidak tercapai, beberapa minggu kemudian, datang dan mengambil kembali pemberian/hadiah mereka. Masya Allah, semoga manusia seperti itu yang tidak jujur dan iklas, harus dicatat jangan sampai menjadi pemimpin rakyat ini.

Dalam satu ayat Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS Al-Insah: 9). Bahwa sedekah yang punya nilai jual di sisi Allah, jika sedekah itu tidak berkait dengan segala kepentingan kecuali berharap pahala dari Allah swt.

Kejujuran adalah amanat. Kebohongan adalah khianat. Itulah sari dari satu pidato khalifah Abu Bakar, saat ia dilantik. Dan yang mengagumkan lagi, Abu Bakar ketika meninggal tidak meninggalkan kekayaan apa pun. Bahkan beliau pun minta dikafankan dengan pakaian yang dikenakannya, dengan alasan masih banyak orang hidup yang memerlukan kain. Padahal, Abu Bakar sebelum diangkat menjadi kalifah, dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Kota Mekkah, namun seluruh harta kekayaan beliau itu, disedekahkan untuk kepentingan perjuangan agama Islam bersama Rasulullah. Bisakah para pemimpin terutama mereka yang saat ini dipercaya rakyat, menirunya?

Sumber : Halim Mubary

»»  read more

Sabtu, 18 April 2009

AKHLAK TASAWUF

TASAWUF itu pilihan berat, itulah bayangan banyak orang. Dianggap sebagai perilaku asketik; yang terasing dengan kehidupan dunia. Dibayangkan, seorang sufi (pelaku tasawuf) adalah mereka yang menggunakan pakaian kumuh, memakai tongkat, berjubah dan berjenggot panjang. Mereka tidak makan, tidak minum, tidak bicara, berjalan sambil menunduk, dan lain sebagainya. Maka menjadi sufi adalah pilihan irrasional di zaman modern ini.

Dalam konteks kehidupan saat ini, hidup sebagaimana digambarkan itu akan dianggap sebagai orang gila dan dibawa ke RSJ. Sebab, dalam zaman yang menjadikan materi sebagai tujuan dan landasan utama kehidupan tidak mungkin orang meninggalkannya. Seluruh usaha, cita-cita, perjuangan diarahkan untuk mendapatkan kedudukan dan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Itulah anggapan yang keliru.

Tasawuf, dalam istilah asing (walaupun tidak mengena) dikenal dengan sebutan mysticism, pada dasarnya dimiliki oleh semua agama, budaya dan peradaban. Tasawuf merupakan satu pilihan jalan hidup, world view, metode atau cara khusus dalam perilaku yang dijalani seseorang untuk mencapai ma’rifatullah atau mengenal Tuhan lebih dekat. Hal ini dilakukan karena Allah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya agar Dia dikenal dan ciptaannya menyembah kepada-Nya. Dalam satu hadits qudsi Allah swt mengatakan: “Kuntu khanzanmakhfiyyan fa ahbabtu an u’rafa fakhalaqtul khalqa” (Semula Aku bagaikan mutiara yang terselubung, Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk).

Ma’rifah (berasal dari kata ‘arafa) menjadi konsep sentral dalam tasawuf. Kata ini berarti mengenal Allah dengan dekat. Untuk mengenal-Nya diperlukan latihan spiritual dengan mensucikan diri dari noda-noda batin secara sungguh-sungguh. Usaha ini dilakukan dengan banyak jalan, terutama zikir. Hanya dengan jiwa yang suci maka ruhani sang hamba akan menjadi murni dan mampu “menghadap” Tuhan. Dalam hal ini berlaku hukum keseimbangan dalam komunikasi. Ketika kita hendak berkomunikasi dengan petani, maka perlu memahami petani, demikian juga dengan politikus, ilmuan dan lainnya. Dan jika hendak berkomunikasi dengan Tuhan, maka harus membersihkan hati dan jiwa dari berbagai kotoran yang meliputinya.

Allah swt adalah zat yang suci, maka berkomunikasi dengan-Nya akan berlangsung dengan baik jika jiwa manusia bersih dan bebas dari penyakit ruhani. Karena itu Allah menjadikan pembersihan ruhani ini sebagai tujuan agama yang paling esensial. Firman-Nya; “qad aflaha man zakkaha” (QS. Al-A’la: 14), yang berarti beruntunglah mereka yang dapat mensucikan jiwanya. Sebab hanya mereka yang memiliki jiwa yang suci, akan mendapatkan pengajaran yang baik dari Tuhannya. Mereka yang mendapat curahan rahmat dan karunia yang tiada henti karena kesucian itu.

Allah mengatakan “celaka” bagi mereka yang tidak mensucikan jiwanya meskipun seseorang tersebut telah melakukan perintah Allah. Fawailul lil mushallin (al-Ma’un: 4), celakalah orang yang melaksanakan shalat. Celaka ini hanya bagi mereka yang shalat tidak menjadikan hatinya terbuka untuk merasakan hal-hal yang dituntut oleh shalat itu sendiri, seperti merasa berempati pada orang miskin, mencegah perbuatn keji dan mungkar dan menjadikannya sebagai wahana mengingat Allah dalam keseharian hidupnya.

Demikian juga ibadah-ibadah lain yang diperintahkan Allah, tujuan utamanya adalah hati.

Zakat, puasa, haji, dan ibadah yang lain sasarannya adalah untuk membersihkan segumpal daging yang jika ia baik baka akan baiklah manusia itu, dan sebaliknya, jika ia buruk, maka akan rusaklah manusia itu. Daging itu adalah hati. Imam al-Ghazali mengatakan maksiat yang dilakukan manusia akan memberikan setitik noda hitam dalam hatinya. Semakin banyak maksiat dilakukannya, maka semakin penuh titik noda tersebut menutupi sanubarinya, dan lama-kelamaan ia akan gelap. Khatamallahu ‘ali qulubihim, wa’ala sam’ihim, wa’ala absharihim. Allah menutupi hati mereka, pendengaran mereka dan penglihatan mereka. Karennaya Sum mum bukhmun ‘umyum fahum la yarji’un, mereka menjadi tuli, bisu dan buta, dan tidak akan mereka dapat kembali kepada jalan yang benar.

Memahami hal tersebut, maka bertasawuf adalah berakhlak mulia. Ada orang yang menyatakan tasawuf memiliki unsur asing yang tidak ada dalam Islam. Bahkan kata tasawuf sendiri tidak dikenal pada zaman Nabi Muhammad. Tasawuf juga ditolak karena Allah sama sekali tidak pernah menyebut kata tasawuf dalam Alquran. Alasan-alasan inilah yang membuat kebanyakan orang tidak mau mengikuti tasawuf dan mengakui sebagai bagian dari ajaran Islam. Padahal para sufi sendiri menegaskan bertasawuf adalah berakhlak dan beretika.

Ajaran mengenai akhlak disepakati sebagai esesnsi ajaran Islam. Rasulullah menegaskan innamal bu’istu li utammimal makarimal akhlak. Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Perbaikan akhlak menjadi esesni perutusan Nabi Muhammad SAW. Karenanya tidak ada yang menolak bahwa moralitas, akhlak, etika atau apapun namanya merupakan esensi dalam Islam. Karena itu jika ada orang yang tidak setuju dengan kata tasawuf, cukup mengatakan etika Islam atau akhlak islami.

Dengan memposisikan tasawuf sebagai akhlak, maka tidak ada halangan bagi setiap orang untuk menjalankannya. Akhlak yang baik tidak terbatas pada kehidupan model tertentu. Ada seorang laki-laki yang memiliki harta yang banyak. Ia ingin menjalankan kehidupan sufi. Dalam pikiranya, kehidupan sufi mesti dimulai dengan zuhud dalam arti meninggalkan kehidupan dunia yang bergelimang harta. Ia hendak menjual semua hartanya dan hidup dalam keprihatinan. Seorang temannya menyarankan agar ia pergi belajar dulu kepada seorang sufi sebelum ia melakukan tindakannya. Laki-laki ini kemudia pergi ke seorang guru sufi terkenal di kotanya. Yang ia lihat sungguh di laur dugaannya. Sang sufi adalah seorang yang kaya. Rumahnya bagus, pakaiannya bagus, makanannya juga cukup. Ia terkaget dengan kenyataan ini, sebab selama ini para sufi yang ia bayangkan hidup kumuh dan terkessan kotor. Sang sufi menjelaskan: “Kalau anda dapat anugerah Tuhan, faamma bini’mati rabbika fahaddits, perlihatkan anugerah itu dengan menyantuni orang dan mensyukurinya, asalkan engkau tidak berlebihan.”

Dalam tradisi sufi dikenal istilah fakir. Sayangnya istilah ini dipahami sebagai kehidupan yang serba kekurangan dan meninggalkan usaha mendapatkan harta. Padahal dalam pengertian yang sebenarnya, faqir adalah bersandar hanya kepada Allah. Faqir berasal dari kata Arab, faqr yang berarti tulang punggung. Tulang punnggung adalah tulang paling mendasar yang menajadi tempat bersandar. Dalam konteks ini, maka Allah adalah tempat bersandar yang palng sempurna. Seringkali orang fakir bersandar kepada manusia. Mereka menganggap rizki untuknya diberikan Allah melalui orang lain sehingga mereka terjebak pada pengharapan dan meminta bantuan kepada orang lain.

Padahal Allah-lah yang berhak menjadi tempat bersandar dan meminta. Kekayaan di dunia tidak menunjukkan apa-apa di hadapan Allah. Demikian juga dengan jabatan dan kekuasaan. Kefakiran di hdapan Allah bukan dinilai dengan harta dan kekuasaan, namun dengan hati sanubari seorang hamba.

Dapat disimpulkan, bahwa menjadi sufi bukanlah meninggalkan pekerjaan dan aktifitas yang selama ini sudah anda lakukan, dengan syarat pekerjaan itu adalah pekerjaan halal. Semua orang, semua pekerja, semua profesi, semua aktifitas yang baik dan halal dapat menjadi sufi dan menjalankan tasawuf; yakni dengan mempraktikkan akhlak yang mulia dan menyadari kehadiran Allah selalu dalam hidupnya. Kesadaran akan kehadiran Allah akan membawa manusia pada konsentrasi ilahiah dalam melaksanakan pekerjaan dan aktifitasnya. Ini harus dilakukan dengan kesadaran dan latihan terus-menerus. Wallahu’a’lam.


Sumber : Sehat Ihsan Shadiqin, Penulis adalah Dosen Akhlak Tasawuf pada Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry-Banda Aceh.

»»  read more